KESEMPATAN TERSEMBUNYI
Bila anda tak pernah melakukan kesalahan, ada baiknya anda melihat lagi langkah anda. Jangan-jangan anda tak melangkah setapak pun. Kesalahan memang tak mengenakkan, namun seorang optimis lebih banyak belajar dari kesalahan daripada dari keberhasilan. Kesalahan menuntun anda untuk mempelajari kembali sesuatu yang terjadi. Bukan cuma itu, kesalahan memimpin anda untuk mengambil tindakan yang lebih baik.
Kesalahan adalah kawan baik yang mengatakan secara samar apa yang harus anda kerjakan. Lihatlah kesalahan apa adanya. Jauhkan prasangka, kesedihan dan ratapan bila kesalahan menimpa anda. Karena, dibalik kesalahan tersimpan kesempatan yang tersembunyi.
Colombus melakukan "kesalahan" yang besar dalam perjalanannya mencari jalur ke India, yaitu menemukan benua Amerika. Namun bertahun-tahun kemudian, jutaan orang mengikuti "kesalahan" tersebut untuk menuai kemakmuran hidup mereka. Masihkah anda menganggapnya sebagai kesalahan?
HATI PENUH DENGAN INSPIRASI
Mungkin ada yang bertanya, kenapa mesti hati ? Izinkan saya mengajak Anda masuk ke dalam dunia wacana yang agak lain. Wacana kepemimpinan – sejauh ini – terlalu banyak diwarnai oleh ayunan bandul otokratik-demokratik. Seolah-olah tidak ada dunia di luar bandul tadi.
Mirip dengan ayunan, kepemimpinan siapapun senantiasa berayun. Tergantung pada keadaan yang sedang dihadapi. Sudah menjadi tugas setiap ayunan kalau ia harus berayun. Hanya saja, kita sering lupa kalau ayunan manapun memerlukan fondasi yang kokoh. Sebab, tanpa fondasi terakhir, ayunan manapun akan roboh. Dan kembali ke soal kepemimpinan, tidak ada fondamen yang lebih kokoh dari fondamen yang bernama sang hati.
Lebih dari sekadar kokoh, sejumlah pemimpin yang memimpin dengan hati, bahkan bisa berkuasa selamanya – sekali lagi selamanya. Sebutlah nama-nama seperti Mahatma Gandhi dan George Washington. Raganya sudah lama tidak lagi bersama kita. Tetapi ide dan tata nilai kepemimpinannya masih hidup sampai dengan sekarang. Bukan tidak mungkin malah akan hidup selamanya.
Terinspirasi dari sinilah, kemudian saya mencoba menelusuri sebuah lorong yang agak lain : hati. Tidak langsung membuat jadi kaya raya tentunya. Tidak juga mendadak sontak jadi hebat. Tetapi ada kesejukan, kedamaian, dan bisa jadi malah pencerahan. Untuk kemudian, berpelukan rapi dengan hidup dan kehidupan. Dan dalam pelukan-pelukan terakhir, ada yang mengandaikan kalau tubuh dan jiwa ini mulai bersayap. Terbang dan pergilah dia ke tempat yang jauh. Dan kepemimpinan, ia bukanlah sebuah perkara yang terlalu sulit. Dalam banyak keadaan, ia mengalir lentur persis seperti aliran air di sungai.
Kerap ada yang bertanya, adakah cara yang bisa membuat sang hati rajin bernyanyi ? Saya tidak berpretensi bisa mengajari Anda dalam hal ini. Namun, rekan saya punya sebuah cerita tentang kereta yang ditarik lima kuda. Mirip dengan tubuh dan jiwa ini yang ditarik ke mana-mana oleh panca indera. Mulut mau makan enak. Mata mau melihat yang indah-indah. Demikian juga unsur-unsur panca indera yang lain. Dalam tubuh dan jiwa yang sepenuhnya ditarik oleh panca indera, jangankan mendengarkan suara-suara hati, tubuh dan jiwa lari ketakutan, menyeramkan dan tanpa tujuan.
Belajar dari sini, siapa saja yang mau mendengarkan suara-suara hati, sudah saatnya belajar mengendalikan kelima kuda yang bernama panca indera. Saya memulainya dengan mengendalikan mulut, terserah Anda memulianya dari mana. Pengendalian terakhir penting, paling tidak untuk mulai mengendalikan keliaran panca indera, kemudian diikuti oleh hadirnya keheningan dan kekhusukan. Lebih dari sekadar menghadirkan keheningan dan kekhusukan, begitu panca indera terkendalikan, energi-energi yang terbuang percuma oleh panca indera bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih berguna. Terutama untuk pergi menelusuri lorong-lorong sang hati.
Sekali seseorang pernah sampai di lorong terakhir, dan mengetahui indah dan nikmatnya berada di sana, bukan tidak mungkin enggan kembali ke lorong-lorong lain. Ia tidak hanya indah dan menakjubkan. Melainkan juga penuh dengan pohon dan bunga-bunga inspirasi. Ide, imajinasi, fantasi bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di sana. Ia bertaburan di setiap pojokan ke mana mata menoleh. Seorang sahabat bahkan pernah bertutur, kalau kita bisa bertemu Tuhan di sana.
Coba kita renungkan kembali, dari mana pemimpin-pemimpin kaliber seperti Mahatma Gandhi, George Washington, Ibu Theresa, Lady Diana, Dalai Lama, Konosuke Matsushita memperoleh inspirasi sehingga kehidupannya begitu bersinar bagi orang lain ? Bukankah ia memperolehnya dari perjalan di lorong-lorong sang hati ? Bukankah orang-orang ini bisa disebut berkuasa selamanya ?
Kalau kekuasaan saja bisa mereka genggam selamanya, apa lagi hal-hal kecil lainnya. Untuk itulah, saya masih terus rajin mengajak diri untuk sesering mungkin masuk lorong-lorong sang hati. Belum sempurna tentunya. Tetapi cukup memberikan inspirasi bagi sebuah hidup yang penuh keheningan. Anda tertarik ?
Jumat, 20 November 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
